Bagaimana Memahami Orang Lain dengan Memahami Diri Kita Sendiri (Sebuah Pengantar)
Malam Minggu kemarin, saya menginap di sekolah, SMAN 1 Bone-Bone. Ada kegiatan English Supercamp yang diadakan oleh Ade’-Ade’ OSIS. Sebuah kegiatan sebagai penutup program kegiatan mereka selama kepengurusan periode tahun 2008/2009 ini. Makin malam, suasana makin ramai. Ada yang main gitar, guyon, juga sampe curhat massal. Ini yang akhirnya terjadi.
Saya, salah seorang yang lebih dewasa diantara mereka bercerita banyak tentang hidup. Menariknya, kebanyakan dari ade’-ade’ ini ternyata mempunyai keluhan yang sama, mereka merasa mudah tertekan karena masalah yang terjadi dalam hidupnya.
Unik, itu satu-satunya kata yang tepat untuk menggambarkan kepribadian setiap orang. Florence Littauer membagi watak manusia dalam 4 model, yakni sanguinis, melankolis, koleris dan phlegmatis. Setiap orang bisa menjadi person yang memiliki watak perpaduan dari keempat model tadi. Mungkin ada yang sanguinis tapi juga melankolis dalam satu waktu. Sanguinis ditandai dengan kemampuannya berbicara tanpa henti, ceria, menyukai kehidupan, tapi sering telat dalam masalah waktu, lupa banyak hal. Melankolis adalah pemikir, pemurung, pujangga kehidupan, jenius tapi juga paling mudah tersinggung, sensitif, mudah tertekan, dan kalau marah tak dapat menyembunyikannya dari raut wajah. Koleris adalah orang yang berwatak pemimpin, yang bisa mengatur orang lain dan mendelegasikan tugas, tetapi juga sering merasa diri paling benar tanpa paham situasi. Phlegmatis yang paling enak. Hidupnya just go on. Apa yang terjadi, terjadilah, katanya. Hidup tenang, damai, tak ada masalah, tak mudah tertekan dan bisa menjadi penengah, tapi sayangnya sering tak punya target, terlihat malas dan tak punya ambisi atas segala sesuatu. Yang paling baik ada perpaduan dari semuanya, asal jangan sampai berada di titik ekstrim untuk masing-masing watak. Apapun itu, jika terlalu berlebihan, pasti tak akan baik untuk diri. Read more…









Komentar