Arsip

Archive for the ‘Budaya’ Category

Kumpulan Kata Mutiara (Originally Posted)

3 November 2009 Abied Tinggalkan komentar

Ini masih lanjutan dari kumpulan kata mutiara yang kemarin, namun ini adalah murni karya pribadi. Entahlah, bagi orang lain mungkin tak terlalu ‘wah’, bagi saya juga memang kurang ‘wah’. :mrgreen:
Kalau yang kemarin bersumber dari Asta Qauliyah dan 24 Selingan Hidup, kalimat berikut ini adalah hasil kontemplasi seorang Abied. Yang sedang belajar menjadi abid sebenar-benarnya Abied. Juga dari hasil konsultasi bersama teman sejawat, kerabat dekat, sahabat, atau juga sobat nan jauh di mato dekat di hati *tenggorokan??* :lol:
Semoga ada gunanya …

Kebahagiaan itu tak terletak jauh dimana. Ia hanya bersemayam di sebuah tempat di dalam tubuh yang bernama hati. Jika ingin berbahagia, lapangkan hati atas segala yang terjadi dalam hidup. Meski berada dalam kesempitan, kelapangan hati akan membuat seisi dunia ada bagi kita. Gembirakan hatimu … (Abied)
Read more…

Categories: Budaya, Cerita, Cinta, Pendidikan

Hukum Kloning, Tranplantasi Organ, Abortus, dan Bayi Tabung Menurut Islam

2 November 2009 Abied 1 comment

Kloning

Kloning adalah teknik membuat keturunan dengan kode genetik yang sama dengan induknya pada mahkluk hidup tertentu baik berupa hewan, tumbuhan, dan manusia, hal ini dapat dilakukan dengan cara mengambil sel tubuh induknya (sel somatik) dan selanjutnya ditanamkan pada sel induk (ovum) wanita yang telah dihilangkan inti selnya dengan suatu metode yang mirip dengan proses pembuahan atau inseminasi buatan. Dengan metode senacam itu, kloning manusia dilaksanakan dengan cara mengambil inti sel dari seorang perempuan, lalu dengan cairan kimiawi khusus dan kejutan listrik inti sel digabungkan dengan sel telur, setelah penggabungan  ini terjadi maka akan ditransfer ke dalam rahim seorang perempuan, agar dapat memperbanyak diri, berkembang,berdiferensiasi dan berubah menjadi janin yang sempurna. Setelah itu keturunan yang dihasilkan dapat dilahirkan secara alamiah yang berkode genetik sama dengan induknya. Read more…

Bagaimana Mengenalkan Agama pada Anak?

2 November 2009 Abied Tinggalkan komentar

Bagaimana Anak Mengenal Tuhan

Biasanya anak-anak mulai mengenal Tuhan melalui bahasa yaitu kata-kata yang ada dalam lingkungannya. Mulai umur tiga dan empat tahun anak-anak sering mengemukakan pertanyaan yang ada hubungannya dengan agama, misalnya siapa Tuhan, dimana syurga, bagaiman cara pergi kesana ?, juga melalui cerita-cerita dalam kitab suci dapat menarik perhatian anak-anak.

Tuhan Sebagai Keharusan Moral Bagi Anak

Pada akhir masa anak-anak terlihat perhatian anak terlihat sangat besar kepada Tuhan, karena Tuhan adalah penolong yang baik, namun pada anak-anakyanglebih besar, sembahyang dan doanya lebih sungguh-sungguh daripada yang masih kecil karena betul-betul merupakan permohonan akan pertolongan Allah dengan menghadapi dirinya. Read more…

Etika Pergaulan Remaja dalam Pandangan Islam

2 November 2009 Abied Tinggalkan komentar

Islam telah mengatur perilaku dalam remaja. Perilaku tersebut merupakan batasan-batasan yang dilandasi nilai-nilai agama. Oleh karena itu perilaku tersebut harus diperhatikan, dipelihara, dan dilaksanakan oleh para remaja. Perilaku yang menjadi batasan dalam pergaulan adalah :

1.      Menutup Aurat

Islam telah mewajibkan laki-laki dan perempuan untuk menutup aurot demi menjaga kehormatan diri dan kebersihan hati. Aurot merupakan anggota tubuh yang harus ditutupi dan tidak boleh diperlihatkan kepada orang yang bukan mahramnya terutama kepada lawan jenis agar tidak boleh kepada jenis agar tidak membangkitkan nafsu birahi serta menimbulkan fitnah.

Aurot bagi-bagi yaitu anggota tubuh antara pusar dan lutut sedangkan aurot bagi wanita yaitu seluruh anggota tubuh kecuali muka dan kedua telapak tangan. Read more…

Categories: Budaya, Cerita, Hidup, Islam, Pendidikan

Kebudayaan Primitif, Agraris dan Industrial

1 November 2009 Abied Tinggalkan komentar

A. Kebudayaan Primitif Agraris

Berbicara tentang masalah primitif, maka kita akan berbicara tentang kehidupan masyarakat desa. Begitu pula, kehidupan desa selalu dikaitkan dengan kehidupan agraris, yaitu kelompok masyarakat yang mayoritas bermata pencaharian di bidang pertanian. Desa sebagai penghasil pangan utama, menjadi tumpuan bagi masyarakat kota.
Menurut Bintarto, desa mempunyai unsur-unsur sebagai berikut :

  • Daerah, dalam arti tanah-tanah yang produktif dan yang tidak, serta penggunaannya.
  • Penduduk, meliputi jumlah, pertambahan, kepadatan persebaran dan mata pencaharian penduduk setempat.
  • Tata kehidupan, dalam hal ini pola tata pergaulan dan ikatan-ikatan pergaulan.

Read more…

Pengaruh Jilbab sebagai Busana Muslimah dalam Pergaulan

31 Oktober 2009 Abied Tinggalkan komentar

JilbabIslam yang datang sebagai agama terakhir melihat bahwa ada orang-orang yang menyimpan penyakit di hati mereka, memandang jelek dan rendah kepada wanita. Mereka memperturutkan hawa nafsu mereka, melalui mata dan angan-angan di dalam hati. Karena hal itu bertentangan dengan agama, maka Al-Qur’an menetapkan batas baginya dan mengharamkan apa saja yang bertentangan dengan agama, etika dan kemanusiaan.

Islam kemudian memerintahkan wanita-wanita muslim untuk memakai jilbab sebagai busana muslimah yang membedakan orang-orang muslim dengan non-muslim. Meskipun sebenarnya jilbab sudah ada sebelum Islam datang, Islam memberikan ketetapan yang begitu jelas dalam Al-Qur’an sebagai panduan bagi seluruh kaum muslimah dalam berbusana. Namun, dalam kenyataan sekarang ini banyak sekali jenis pakaian muslimah – dalam hal ini jilbab – yang tidak sesuai dengan apa yang digambarkan dalam Al-Qur’an. Karenanya, dalam makalah ini penulis akan memaparkan beberapa syarat dan kriteria jibab menurut Islam.

Berbusana muslimah selain menjadi sarana untuk menjaga pandangan dari nafsu syahwat, juga memberikan pengaruh dalam persepsi sosial dan tingkah laku seseorang untuk tetap berusaha berada dalam aturan Islam. Read more…

Sejarah Perkembangan Tasawuf

30 Oktober 2009 Abied Tinggalkan komentar

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Islam sebagaimana dijumpai dalam sejarah, ternyata tidak sesempit seperti yang dipahami oleh masyarakat Islam sendiri pada umumnya. Dalam sejarah terlihat bahwa Islam yang bersumber kepada Al-Qur’an dan as-Sunnah dapat berhubungan dengan pertumbuhan masyarakat luas. Dari persentuhan tersebut lahirlah berbagai disiplin ilmu keislaman, salah satunya adalah tasawuf.

Bagi umat Islam umumnya dan kaum cendekiawan khususnya, adalah panggilan sejarah untuk terus mengembangkan dan menggali warisan intelektual mereka.

B. Batasan Masalah

    Dari latar belakang masalah di atas, maka muncul tugas penulis untuk menjelaskan lebih jauh tentang ilmu tasawuf.

    Karenanya penulis memberikan batasan masalah atas perincian bab, yakni : Read more…

    Categories: Budaya, Islam

    Budaya Baca Tulis Al-Qur’an Masyarakat Sulawesi Selatan

    30 Oktober 2009 Abied Tinggalkan komentar

    A. Baca Tulis Alquran

    1. Pengertian Baca Tulis Alquran

    Mengungkap pengertian baca tulis Alquran terlebih dahulu penulis uraikan arti tiap katanya. Baca dalam arti kata majemuknya “membaca” yang penulis pahami berarti melihat tulisan dan mengerti atau dapat melisankan yang tertulis.

    Kata “tulis” berarti batu atau papan batu tempat menulis (dahulu banyak dipakai oleh murid-murid sekolah), kemudian kata “tulis” ditambah akhiran “an” maka menjadi kata “tulisan” (akan lebih mengarah kepada usaha memberikan pengertian dari baca tulis Alquran) maka tulisan berarti hasil menulis.[1]

    Dari kata “baca” dan “tulis” digabungkan akan membentuk sebuah kata turunan yaitu “Baca Tulis” yang berarti suatu kegiatan yang dilaksanankan secara berurutan yaitu menulis dan membaca.

    Kata “Alquran” menurut bahasa artinya bacaan sedangkan menurut istilah adalah  mukjizat yang diturunkan oleh Allah kepada Nabi Muhammad  Saw sebagai sumber hukum dan pedoman bagi pemeluk ajaran agama Islam, jika dibaca bernilai ibadah.[2] Pengertian dapat penulis uraikan dengan lebih terinci, bahwa Alquran adalah
    firman Allah swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw secara mutawatir dan berangsur-angsur, melalui malaikat Jibril yang dimulai dengan surah Al-Fatihah dan diakhiri dengan surah An-Nas dan membacanya bernilai ibadah. Read more…

    Categories: Budaya, Islam

    Prinsip Mengajar yang Efektif bagi Seorang Guru

    30 Oktober 2009 Abied Tinggalkan komentar

    A. Pengertian Prinsip-prinsip Mengajar

    Prinsip guru, adalah asas atau aturan pokok, dimana seorang guru sebagai motifator untuk merangsang daya dorong pribadi siswa dalam melaksanakan sesuatu atau suatu jabatan karir, fungsional dan profesional yang berkompoten (cakap, mampu dan wewenang) dan memperoleh kepercayaan dari masyarakat atau pemerintah untuk melaksanakan tugas.1

    Mengingat tugas yang berat itu, guru yang mengajar di depan kelas harus mempunyai prinsip-prinsip mengajar, dan harus dilaksanakan seefektif mungkin agar guru tidak asal mengajar.

    Adapun prinsip-prinsip tersebut adalah sebagai berikut :

    -         Pengajaran hendaknya menarik minat

    -         Partisipasi murid dalam kegiatan belajar mengajar

    -         Prinsip pengulangan

    -         Perbedaan individu

    -         Kematangan murid

    -         Prinsip kegembiraan

    -         Prinsip mengajar murid belajar Read more…

    Pertumbuhan dan Perkembangan Anak

    30 Oktober 2009 Abied Tinggalkan komentar

    A.  Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan

    Istilah pertumbuhan dan perkembangan sering digunakan secara bergantian atau secara bersama dalam arti yang sama. Namun demikian, sebenarnya mempunyai pengertian yang berbeda, walaupun keduanya mempunyai aspek yang sama, yaitu terjadinya perubahan dan pertambahan. Untuk jelasnya dapat kita lihat beberapa definisi yang dikemukakan para ahli.

    Dr. Kartini Kartono mengemukakan bahwa:

    Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam passage (peredaran waktu) tertentu.[1]

     

    Drs. Muhiddin Syah mengemukakan bahwa:

    “Pertumbuhan berarti perubahan-perubahan kualitatif yang mengacu pada jumlah, besar dan luas yang bersifat konkret.”.[2]

    Drs. H. Abu Ahmadi, mengemukakan bahwa:

    Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan . . . , Pertumbuhan

    itu tidak hanya berlaku pada hal-hal yang bersifat kuantitatif, karena tidak selamanya material itu kuantitatif. Material dapat terdiri dari bahan-bahan kuantitatif misalnya atom, sel, kromosan, rambut dan lain-lain, dapat pula material terdiri dari bahan-bahan kualitatif misalnya kesan, keinginan, ide, gagasan, pengetahuan, nilai, dan lain-lain.[3]

     

    Dari uraian di atas, dapatlah kita rumuskan arti pertumbuhan sebagai perubahan kuantitatif pada material pribadi sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Material pribadi seperti sel, kromoson, rambut, butiran darah, tulang, adalah tidak dapat dikatakan berkembang, melainkan bertumbuh. Begitu juga material pribadi seperti kesan, keinginan, ide, pengetahuan, nilai, selama tidak dihubungkan dengan fungsinya. Jadi pertumbuhan meliputi pertambahan material, baik yang pertumbuhan yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif, sepanjang tidak berhubungan dengan fungsinya. Read more…

    Categories: Budaya, Cerita, Hidup