Posted by: Abied on: 31 Oktober 2009
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Salah satu cara untuk membedakan jenis pengetahuan yang satu dengan yang lain adalah dengan mengajukan beberapa pertanyaan dalam hubungannya dengan objek apa yang dikaji oleh pengetahuan itu (ontologi), bagaimana cara mengetahui pengetahuan tersebut (epistemologi) dan apa fungsi pengetahuan tersebut (aksiologi).
Ontologi berasal dari bahasa Yunani, ontos (yang sedang berada) dan logos (ilmu). Dalam hal ini, ontologi diartikan sebagai suatu cabang metafisika yang berhubungan dengan kajian mengenai eksistensi itu sendiri. Ontologi mengkaji sesuai yang ada, sepanjang sesuatu itu ada.[1]
Clauberg menyebut ontologi sebagai “ilmu pertama”, yaitu studi tentang yang ada sejauh ada. Studi ini dianggap berlaku untuk semua entitas, termasuk Allah dan semua ciptaan, dan mendasari teologi serta fisika.[2]
Sesuai dengan judul makalah ini, maka penulis akan membahas tentang perbandingan antara ontologi sains dan ontologi filsafat. Adapun jika nantinya ada penjelasan yang tidak sesuai, sebelumnya penulis memohon maaf.
B. Rumusan Masalah
Dari latar belakang di atas, muncul beberapa pertanyaan yang nantinya menjadi bahan dalam penjabaran makalah ini, yaitu :
BAB II
ANALISIS PERBANDINGAN
ONTOLOGI SAINS DAN ONTOLOGI FILSAFAT
A. Ontologi Sains
1. Hakikat Pengetahuan Sains
Pengetahuan sains yang dimaksud adalah pengetahuan yang bersifat rasional – empiris. Masalah rasional dan empiris inilah yang akan dibahas.
Pertama, masalah rasional. Dalam sains, pernyataan atau hipotesis yang dibuat haruslah berdasarkan rasio. Misalnya hipotesis yang dibuat adalah “makan telur ayam berpengaruh positif terhadap kesehatan”. Hal ini berdasarkan rasio : untuk sehat diperlukan gizi, telur ayam banyak mengandung nilai gizi, karena itu, logis bila semakin banyak makan telur ayam akan semakin sehat.
Hipotesis ini belum diuji kebenarannya. Kebenarannya barulah dugaan. Tetapi hipotesis itu telah mencukupi syarat dari segi kerasionalannya. Kata “rasional” di sini menunjukkan adanya hubungan pengaruh atau hubungan sebab akibat.
Kedua, masalah empiris. Hipotesis yang dibuat tadi diuji (kebenarannya) mengikuti prosedur metode ilmiah. Untuk menguji hipotesis ini digunakan metode eksperimen. Misalnya pada contoh hipotesis di atas, pengujiannya adalah dengan cara mengambil satu kelompok sebagai sampel, yang diberi makan telur ayam secara teratur selama enam bulan, sebagai kelompok eksperimen. Demikian juga, mengambil satu kelompok yang lain, yang tidak boleh makan telur ayam selama enam bulan, sebagai kelompok kontrol. Setelah enam bulan, kesehatan kedua kelompok diamati. Hasilnya, kelompok yang teratur makan telur ayam rata-rata lebih sehat.
Setelah terbukti (sebaiknya eksperimen dilakukan berkali-kali), maka hipotesis yang dibuat tadi berubah menjadi teori. Teori ”makan telur ayam berpengaruh terhadap kesehatan” adalah teori yang rasional – empiris. Teori seperti ini disebut sebagai teori ilmiah (scientific theory).
Cara kerja dalam memperoleh teori tadi adalah cara kerja metode ilmiah. Rumus baku metode ilmiah adalah : logico – hypotheticom – verificatif (buktikan bahwa itu logis – tarik hipotesis – ajukan bukti empiris).
Pada dasarnya cara kerja sains adalah kerja mencari hubungan sebab akibat, atau mencari pengaruh sesuatu terhadap yang lain. Asumsi dasar sains ialah tidak ada kejadian tanpa sebab.[3] Asumsi ini benar bila sebab akibat itu memiliki hubungan rasional.
Ilmu atau sains berisi teori. Teori itu pada dasarnya menerangkan hubungan sebab akibat. Sains tidak memberikan nilai baik atau buruk, halal atau haram, sopan atau tidak sopan, indah atau tidak indah; sains hanya memberikan nilai benar atau salah.[4]
2. Struktur Sains
Ahmad Tafsir, membagi sains menjadi dua, yaitu sains kealaman dan sains sosial. Dalam makalah ini, hanya ditulis beberapa ilmu.
Poedjawijatna mendefinisikan filsafat sebagai sejenis pengetahuan yang berusaha mencari sebab yang sedalam-dalamnya bagi segala sesuatu berdasarkan akal pikiran belaka, sedangkan Bakry mengatakan bahwa filsafat adalah sejenis pengetahuan yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.[5]
Kedua definisi di atas menjelaskan satu hal yang penting bahwa filsafat adalah pengetahuan yang diperoleh dari berfikir, dan hasilnya berupa pemikiran (yang logis tetapi tidak empiris).
2. Struktur Filsafat
Filsafat terdiri atas tiga cabang besar, yaitu : ontologi, epistemologi dan aksiologi.
Ontologi mencakup banyak sekali filsafat, mungkin semua filsafat masuk di sini,[6] misalnya : logika, metafisika, kosmologi, teologi, antropologi, etika, estetika, filsafat pendidikan, filsafat hukum, dan lain-lain. Epistemologi hanya mencakup satu bidang saja yang disebut Epistemologi, yang membicarakan cara memperoleh pengetahuan itu. Sedangkan aksiologi hanya mencakup satu cabang saja, yaitu Aksiologi, yang membicarakan guna pengetahuan filsafat. Ini pun berlaku bagi semua cabang filsafat. Inilah kerangka struktur filsafat.
C. Analisis Perbandingan Ontologi Sains dan Ontologi Filsafat
Dari penjelasan tentang ontologi sains dan filsafat di atas, kita dapat membandingkan dan membedakan antara sains dan filsafat, yaitu :
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan pembahasan pada bab sebelumnya, maka kita dapat menarik kesimpulan sebagai berikut :
B. Saran
Adapun saran yang diberikan oleh penulis adalah :
DAFTAR PUSTAKA
Agussalim, A.M., Drs.,M.Si. Filsafat Ilmu Sebagai Metode Berpikir dan Ilmiah. UPT. Mata Kuliah Umum. Universitas Negeri Makassar.
Bagus, Lorens. Kamus Filsafat. Jakarta : Gramedia, 2002
Komaruddin, Prof. dan Dra. Yooke Tjurpamah, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah Ed. 1 Cet. 2; Jakarta : Penerbit Bumi Aksara, 2002
Tafsir, Ahmad, Prof. Dr. Filsafat Ilmu. Bandung : Remaja Rosdakarya, 2006
[1] Prof. Komaruddin dan Dra. Yooke Tjurpamah, Kamus Istilah Karya Tulis Ilmiah. (Ed. Q Cet. 2, Jakarta : Penerbit Bumi Aksara, 2002). h. 169
[2] Lorens Bagus, Kamus Filsafat (Jakarta : Gramedia, 2002), h. 747
[3] Fred N. Kerlinger dalam Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2006), h. 24.
[4] Prof. Dr. Ahmad Tafsir, Filsafat Ilmu (Bandung : Remaja Rosdakarya, 2006), h. 25.
[5] Ibid, h. 67
[6] Ibid, h. 69
Saya, Abied, dari sebuah tempat paling indah di dunia.
Salam …
=====================================================
Baca juga Postingan Terkait Lainnya :
12 Desember 2009 pada 7:50 am
AQ PUNYA TUGAS YAITU MERINGKAS TENTG ONTOLOGI SAINS KALAU BS STIAP PERTANYAAN IT BS DI JWB LANGSUNG