Posted by: Abied on: 30 Oktober 2009
A. Pengertian Pertumbuhan dan Perkembangan
Istilah pertumbuhan dan perkembangan sering digunakan secara bergantian atau secara bersama dalam arti yang sama. Namun demikian, sebenarnya mempunyai pengertian yang berbeda, walaupun keduanya mempunyai aspek yang sama, yaitu terjadinya perubahan dan pertambahan. Untuk jelasnya dapat kita lihat beberapa definisi yang dikemukakan para ahli.
Dr. Kartini Kartono mengemukakan bahwa:
Pertumbuhan adalah perubahan secara fisiologis sebagai hasil dari proses fungsi-fungsi fisik yang berlangsung secara normal pada anak yang sehat, dalam passage (peredaran waktu) tertentu.[1]
Drs. Muhiddin Syah mengemukakan bahwa:
“Pertumbuhan berarti perubahan-perubahan kualitatif yang mengacu pada jumlah, besar dan luas yang bersifat konkret.”.[2]
Drs. H. Abu Ahmadi, mengemukakan bahwa:
Pertumbuhan dapat diartikan sebagai perubahan kuantitatif pada material sesuatu sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan . . . , Pertumbuhan
itu tidak hanya berlaku pada hal-hal yang bersifat kuantitatif, karena tidak selamanya material itu kuantitatif. Material dapat terdiri dari bahan-bahan kuantitatif misalnya atom, sel, kromosan, rambut dan lain-lain, dapat pula material terdiri dari bahan-bahan kualitatif misalnya kesan, keinginan, ide, gagasan, pengetahuan, nilai, dan lain-lain.[3]
Dari uraian di atas, dapatlah kita rumuskan arti pertumbuhan sebagai perubahan kuantitatif pada material pribadi sebagai akibat dari adanya pengaruh lingkungan. Material pribadi seperti sel, kromoson, rambut, butiran darah, tulang, adalah tidak dapat dikatakan berkembang, melainkan bertumbuh. Begitu juga material pribadi seperti kesan, keinginan, ide, pengetahuan, nilai, selama tidak dihubungkan dengan fungsinya. Jadi pertumbuhan meliputi pertambahan material, baik yang pertumbuhan yang bersifat kuantitatif maupun yang bersifat kualitatif, sepanjang tidak berhubungan dengan fungsinya.
Selanjutnya untuk pengertian perkembangan, dapat kita lihat dari definisi yang dikemukakan oleh para ahli sebagai berikut:
Drs. Tadjad mengemukakan bahwa:
“Perkembangan adalah perubahan dan pertambahan yang bersifat kualitatif dari setiap fungsi-fungsi kejiwaan dan kepribadian”.[4]
Sejalan dengan itu Drs. Muhiddin Syam mengemukakan bahwa:
Perkembangan ialah proses perubahan kualitatif yang mengacu pada mutu
fungsi organ-organ jasmaniah, bukan organ-organ jasmaniahnya itu sendiri. Dengan kata lain, perekanan arti perkembangan itu terletak pada penyempurnaan fungsi psikologis yang disandang oleh organ-organ fisik.[5]
Dengan demikian dapat dikatakan bahwa perkembangan itu adalah perubahan dan pertambahan kualitatif daripada setiap fungsi disebabkan adanya proses pertumbuhan material yang memungkinkan adanya fungsi itu, di samping itu juga disebabkan oleh karena perubahan tingkah laku sebagai hasil belajar. Jadi kita dapat merumuskan pengertian perkembangan pribadi sebagai perubahan kualitatif dari setiap fungsi kepribadian akibat dari pertumbuhan dan belajar.
Dari beberapa pengertian pertumbuhan dan perkembangan yang telah dikemukakan di atas, dapat kita simpulkan bahwa pertumbuhan mengandung arti yang berbeda dengan pribadi yang berkembang. Dalam pribadi manusia, baik yang jasmaniah maupun yang rohaniah, terdapat dua bagian yang berbeda sebagai kondisi yang menjadikan pribadi manusia berubah menuju kesempurnaan. Dua bagian yang kuantitatif dan bagian pribadi fungsional yang kualitatif. Pribadi material yang kuantitatif mengalami pertumbuhan, sedangkan pribadi fungsional yang kuantitatif mengalami perkembangan.
B. Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Setelah membahas pengertian pertumbuhan dan perkembangan di atas, kita akan membahas tentang faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan seorang anak, memang tidak dapat dihindari adanya beberapa faktor yang mempengaruhi organ tubuh anak, antara lain:
Jadi pada dasarnya peertumbuhan anak sangat dipengaruhi oleh keempat faktor di atas, kekurangan nutrisi pada ibu atau janin, perdarahan di bagian kepala yang disebabkan oleh tekanan dari dinding rahim waktu dilahirkan, ataupun pengalaman traumatik karena terjatuh, dapat menyebabkan
pertumbuhan bayi dan anak menjadi terganggu.
Di samping itu dapat kita lihat, bayi-bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dari golongan sosial ekonomis yang rendah pada umumnya tumbuh lebih kecil daripada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu dari kelas menengah dan tinggi. Hal ini disebabkan karena kekurangan gizi dan kurang sempurnanya perawatan kesehatan.
Sedangkan faktor yang mempengaruhi perkembangan seorang anak, menurut Kartini Kartono, antara lain:
Setiap gejala perkembangan anak merupakan hasil kerjasama dan pengaruh timbal balik antara potensi hereditas dengan faktor-faktor lingkungan. Oleh karena itu bakat dan potensi anak patut diperhitungkan. Perkembangan setiap anak pada batas tertentu sangat ditentukan oleh bibit dari setiap potensi psiko-psiko anak. Dan kualitas alami tersebut mempengaruhi cara bereaksi atau respon anak terhadap segala pengaruh dari lingkungan.
Kualitas-kualitas bawaan akan tampak pada penampakan ciri-ciri fisik
yang karaktereistik, misalnya: penampakantubuh, warna rambut, bentuk hidung, dan lain-lain. Hal ini juga tampak pada ciri-ciri psikis yang ber-karakteristik, misalnya: kecverdasan atau intelegensi, ketekunan, minat, dan lain-lain.
Pertumbuhan dan perkembangan anak kemudian diikuti dengan usaha belajar. Dan setiap pengalaman anak sejak masa lahirnya akan cenderung mendorong maju perkembangannya. Jelaslah bahwa impuls untuk tumbuh dan berkembang pada anak itu sangat kuat. Implus ini dimanfaatkan oleh anak untuk mencoba setiap bakat dan kemampuannya, dengan caranya sendiri. Oleh karena itulah maka anak disebut sebagai subyek yang aktif.
Menurut Tadjad pada garis besarnya ada dua faktor yang mempengaruhi terjadinya pertumbuhan dan perkembangan pada seorang anak, yaitu:
Pada dasarnya, faktor-faktor tersebut di atas sama dengan yang dijelaskan sebelumnya, yaitu bahwa faktor keturunan atau pembawaan dari anak dan juga faktor dari lingkungan sekitarnya sangan mempengaruhi proses
pertumbuhandan perkembangannya, tidak terlepas dari pembawaan dan lingkungannya.
C. Teori Pertumbuhan dan Perkembangan Anak
Suatu sistem pengertian atau konseptualisasi yang diorganisasikan secara logis, dan diperoleh melalui jalan (pendekatan) yang sistematis, biasanya disebut sebagai teori. Adapun yang menyangkut teori-teori tentang pertumbuhan dan perkembangan anak dari para ahli sangat beragam. Menurut Tadjad ada tiga teori tentang pertumbuhan dan perkembangan seorang anak, yaitu:
Selain dari teori yang telah disebutkan di atas, Drs. H. Abu Ahmadi menuliskan dalam bukunya beberapa teori perkembangan anak sebagai berikut:
1. Teori Empirisme
Teori Empirisme, berpendapat bahwa pada dasarnya anak lahir di dunia, perkembangannya ditentukan oleh adanya pengaruh dari luar, termasuk pendidikan dan pengajaran. Dianggapnya anak lahir dalam kondisi kosong, putih bersih seperti meja lilin (tabularasa), maka pengalaman (empiris) anaklah yang bakal menentukan corak dan bentuk perkembangan jiwa anak. Dengan demikian menurut teori ini, pendidikan atau pengajaran anak pasti berhasil membentuk perkembangan atau pengajaran anak pasti berhasil membentuk perkembangannya. Teori ini biasa juga dikenal sebagai:
Teori ini berpendapat bahwa perkembangan jiwa anak lebih banyak ditentukan oleh dua faktor yang saling menopang, yakni faktor bakat dan faktor pengaruh lingkungan. Keduanya tidak dapat dipisahkan, seolah-olah memadu dan bertemu dalam satu titik (converge). Di sini dapat dipahami bahwa kepribadian seorang anak akan terbentuk dengan baik apabila dibina oleh suatu pendidikan (pengalaman) yang baik serta ditopang oleh bakat yang merupakan pembawaan lahir. Tokoh utama yang mempelajari teori ini adalah sepasang suami isteri Williams Stern dan clara Stern.
4. Teori Rekapitulasi
Rekapitulasi berarti ulangan, yang dimaksudkan di sini adalah bahwa
perkembangan jiwa anak adalah merupakan hasil ulangan dari perkembangan seluruh jenis manusia. Disimpulkan bahwa seorang manusia akan mengalami tingkatan masa sebagai berikut:
Pernyataan terkenal dari teori ini adalah onogenese recapitulatie philogenesa (perkembangan suatu jenis makhluk adalah mengulangi perkembangan seluruhnya). Tokoh utama teori ini adalah Haekal yang kemudian diikuti oleh Stanley Hall.
5. Teori Psikodinamika
Teori ini berpendapat bahwa perkembangan jiwa atau kepribadian seseorang ditentukan oleh komponen dasar yang bersifat sosioafektif, yakni ketegangan yang ada di dalam diri seseorang ikut menentukan dinamika di tengah-tengah lingkungannya. Maka teori ini pun menekankan pada peranan lingkungan di dalam perkembangan anak. Yang termasuk pendukung teori ini adalah K. Homey, E. From dan juga Sigmund Freud.
6. Teori Kemungkinan Berkembang
Yang menyampaikan teori ini adalah salah seorang ilmuan dari Belanda yaitu Dr. M.J. Langeveld.
7. Teori Interaksionisme
Menurut teori ini perkembangan jiwa atau perilaku anak banyak ditentukan oleh adanya dialektif dengan lingkungannya. Maksudnya, adalah bahwa perkembangan kognitif seorang anak bukan merupakan perkembanan yang wajar, melainkan ditentukan oleh interaksi budaya. Pengaruh yang datang dari pengalaman dalam berinteraksi budaya, serta dari penanaman nilai-nilai lewat pendidikan (disebut transmisial) itu diharapkan mencapai suatu stadium yang disebut ekulibrasi, yakni keseimbangan antara asimilasi dan akomodasi
pada diri anak.[10]
Dalam ajaran Islam, sifat dasar yang berasal dari keturunan tersebut biasa disebut fitrah. Atas dasar fitrah itulah manusia diciptakan (ditumbuh- kembangkan). Namun merupakan tugas pendidik dan orang tua untuk mengajar, mendidik dan mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan potensi dari fitrah tersebut agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan sempurna.
[1]Kartini Kartono, Psikologi Anak Psikologi Perkembangan (Cet. V; Bandung: Mandar Maju, 1995), h. 18.
[2]Muhiddin Syah, Psikologi Pendidikan Suatu Pendekatan Baru (Cet. I; Bandung: Remaja Rosdakarya, 1995), h. 41.
[3]H. Abu Ahmadi, Munawar Sholeh, Psikologi Pengembangan (Cet. I; Jakarta: Rineka Cipta, 1991), h. 5.
[4]Tadjad, Ilmu Jiwa Pendidikan (Cet. I; Surabaya: Karya Abditama, 1994), h. 19.
[5]Muhiddin Syah, loc. cit.
[6]H. Abu Ahmadi, op. cit., h. 31.
[7]Kartini Kartono, op. cit., h. 21.
[8]Tadjad, op. cit., h. 20.
[9]Ibid., h. 20-21.
[10]Disadur dari H. Abu Ahmadi, op. cit., h. 20.
Saya, Abied, dari sebuah tempat paling indah di dunia.
Salam …
====================================================
Baca juga Postingan Terkait Lainnya :
Asl….ada nggak hubungan asfiksia janin dgnpertumbuhax??? Teori yg mengataan itu d buku mana???
21 November 2009 pada 8:18 pm
ojo tiru jenenge wonge wes elek