Arsip

Arsip untuk Januari, 2008

Obat Jerawat Mujarab

28 Januari 2008 Abied 6 komentar

Dulu, ketika masih berumur 17an tahun, jerawat sangat senang bersarang di wajahku. Bambang, temanku berkata bahwa jerawat itu tidak ada hubungannya dengan kacang dan makanan berminyak. Dia berkata begitu karena memang dia sama sekali tak berjerawat meski makan kacang goreng sebanyak ia mau. Berbeda dengan aku. Ketika hari ini aku makan kacang goreng, kacang asin atau kacang telur, esoknya pasti akan muncul sebuah jerawat sebesar biji kacang di wajah. Wah, payah. Apalagi jika jerawat tersebut adalah jerawat batu. Yang sakitnya minta ampun kalau dipecahin. Aku berhipotesis, bahwa kalau aku makan kacang, maka akan tumbuh jerawat, tapi Bambang kemudian berkata : “Apa kalau makan jerawat, akan tumbuh kacang?“. Assal ya!
Jerawat, menurut pengalamanku, terjadi pada beberapa jenis tipe kulit. Tipe-ku termasuk kulit berminyak. Mungkin kandungan jerawatnya lebih banyak dari yang dimiliki beberapa orang teman. Makanya, akan lebih mudah terserang jerawat. Kondisi kulit yang berminyak diperparah dengan malasnya aku mencuci muka, apalagi menggunakan kosmetik pengobat jerawat. Juga kebiasaan mencongkel isi jerawat dengan jari tangan. Katanya, jari tangan yang kotor akan menginfeksi luka jerawat, hingga akhirnya menyebabkan bekas hitam ketika jerawat sudah sembuh. Read more…

Categories: Hidup

UIN Alauddin Makassar-ku

27 Januari 2008 Abied 2 komentar

Dulu namanya IAIN (Institus Agama Islam Negeri) Alauddin, Makrus biasa nyebutnya Ing Eng, beberapa teman menyebutnya Ya’ Yeng. Tapi sejak tahun 2004, namanya berubah menjadi UIN (Universitas Islam Negeri). UIN Alauddin Makassar lengkapnya. Meskipun tidak jauh berbeda dalam hal namanya, perubahan IAIN menjadi UIN jelas merupakan suatu gebrakan. Al-Ustadz Azhar Arsyad telah berhasil menggapai mimpinya, mengubah status kampus yang dipimpinnya sejak tahun 2000. Tak banyak yang bisa kuceritakan tentang ini, karena jika semuanya kuceritakan, halaman ini akan menjadi berpuluh-puluh lembar.
Aku masuk dalam komunitas ini di Bulan September 2004. Yang paling kuingat waktu itu adalah suasana kampus yang begitu berbeda dari masa SMA. Di awal pendaftaran saja, mahasiswa senior sudah menggelar orasi sana-sini. Gelar performa band, teriak-teriak tentang pendidikan. Ada juga yang teriak tentang <b>kebobrokan</b> dunia pendidikan di Indonesia, termasuk juga kampusku. Aku sebagai mahasiswa baru tentu hanya dapat melihat mereka, berkata dalam hati : <i>”Ah, masa iya dunia pendidikan kita seperti ini?”</i>. Setelah dinyatakan lulus, PIKIR (Pencerahan Imani Kampus IAIN Rabbani) Read more…

Categories: Cerita

Tolong Bantu Kami [Kaum Lelaki]

21 Januari 2008 Abied 3 komentar

Beberapa hari ini saya memperhatikan gaya pakaian beberapa orang gadis yang lewat di depan AEP studio, sebuah studio kecil tempatku dan beberapa teman berkarya. Rupanya, gaya berpakaian yang kini sedang ngetrEnd adalah gaya pakaian ala burasa’ (kata salah seorang ustadz). Disebut sebagai gaya pakaian burasa’, karena memang modelnya seperti bungkus burasa’. Pernah lihat burasa’ gak? Burasa’ atau ada juga yang menyebutnya buras, adalah makanan yang terbuat dari beras, hampir mirip dengan lontong, hanya saja dibungkus dengan daun pisang dan pembuatannya dicampur dengan santan, sehingga rasanya gurih, tidak seperti lontong yang rasanya hanya mirip dengan nasi biasa. Setelah dimasak setengah matang, kemudian dicampur santan, dibungkus lalu dimasak lagi. Bungkusan burasa’ ini diikat dengan tali, biasanya yang digunakan adalah tali rafia (tali plastik). Nah, karena ikatannya mesti kuat, bentuk bidang pada bagian yang tidak diikat akan menonjol keluar dibanding yang diikat. (Ah, sulit ngebayanginnya. Kalau ada yang mau liat gambarnya, ntar dicariin. Hiks .. hiks ..)
Begitu juga dengan gaya pakaian yang kini sering kulihat. Hampir sama dengan burasa itu. Ketat, membentuk dan menonjolkan. Kadang, jika berjalan bersama teman-teman cowok tepat di belakang wanita yang berapakaian seperti ini, aku cuma bisa bilang : Hei, jangan lama-lama ngeliatnya! Pandangan yang gratis adalah pandangan pertama, yang kedua sudah mesti bayar. Hehehe.. Tapi memang sangat sulit dihindari. Hadits tentang menundukkan pandangan terasa sangat sulit bagiku. Untungnya, lingkungan-ku adalah lingkungan mahasiswa Islam, yang kebanyakan berjilbab. Meski begitu, gaya pakaian burasa’ masih tetap saja mudah ditemui. Di jalan menuju pasar, di mall, di lapangan, pantai, dan sebagainya.
Kadang risih juga ngeliat cewek yang berpakaian Read more…

Categories: Islam

Tentang Pujian

18 Januari 2008 Abied Tinggalkan komentar

“Sesungguhnya manusia itu bagaikan bulan dan cahayanya, apabila genap sebulan maka ia akan tenggelam dan menghilang”.
Satu lagi bukti kata bijak tentang keseimbangan hidup. Segala yang muncul di dunia, akan tiba saatnya untuk hilang bersama nama dan kepopulerannya. Mungkin banyak diantara kita yang sadar akan hal ini, tapi ada juga yang tidak. Saya menyebutnya sebagai karma, ada yang menyebutnya sebagai sunnatullah, ada juga yang menyebutnya sebagai hukum keseimbangan.
Bukti yang paling gampang didapat adalah ketenaran seorang artis. Beberapa tahun lalu ketika tampil perdana, Inul Daratista mendapat kecaman dari berbagai pihak. Tak ada hari tanpa Inul <strike>yang saya rasakan kala itu</strike>, semua media seakan menyorotnya. Dirinya jadi begitu terkenal, hingga mungkin tak satu pun manusia dewasa di Indonesia tercinta yang punya televisi tidak mengenal dirinya. Namun, tiba beberapa saat kemudian tiba-tiba ia hilang. Beritanya bak di telan bumi, hingga tak satu pun media yang meliputnya. Tiba saat yang berbeda, Inul tenggelam, Tukul dengan wajah ndEsO-nya yang katro’ dan malu-maluin (dia sendiri yang mengakuinya) muncul di TV, jadi bintang iklan berbagai merk barang, hingga akhirnya menjadi pelawak terfavorit 2007, penggemarnya tak hanya di kalangan internal dalam negeri, tapi katanya juga dari luar negeri. Kini, Tukul sudah mulai berada di titik keseimbangan garis ketenarannya.
Jika ini dibawa dalam setiap lini kehidupan kita, maka yang akan kita lakukan adalah bersiap-siap dengan segala kemungkinan yang terjadi. Jika hari ini sangat banyak orang yang memuji kita <strike>karena kita ganteng lah, karena kita cerdas lah, karena blog kita bagus lah, karena kita berhasil memikat si anu lah, atau karena apapun itu</strike>, maka yakinlah bahwa esok akan tiba saat dimana orang akan melakukan hal yang sebaliknya kepada kita. Tak ada satu pun hal di dunia ini tanpa pro kontra dari orang.
Ketika bercinta pun begitu adanya. Ketika hari ini kita “begitu” “amat” “sangat” mencintai gadis kita, maka suatu saat akan kita rasakan masa di mana kita akan “begitu ” “amat” “sangat” membencinya. Meskipun semua akan kembali normal. Mengapa hal ini bisa terjadi ? Bagi saya hal yang paling mudah menjelaskannya adalah : Makin tinggi kita memanjat, akan makin sakit ketika kita terjatuh. Cinta yang teramat sangat akan menjadi kebencian yang teramat pula. Sedangkan cinta yang biasa saja akan menjadi kebencian yang biasa saja (“Ketika terjadi pengkhianatan di dalamnya”).
Mungkin banyak di antara kita yang senang dipuji. Padahal, pujian itu adalah cobaan ketenaran. Kadang, orang yang memuji juga ingin balik dipuji. Hehehe… Ya, bukankah kita selalu mengharapkan balasan atas apa yang kita lakukan? Seorang pekerja yang bekerja giat pun akan selalu meminta gajinya dinaikkan setiap tahunnya. Seorang siswa yang belajar keras, menginginkan balasan nilai yang memuaskan. Seorang hamba yang beribadah, selalu mengharapkan balasan berupa ridho dari Tuhan-Nya. Hal yang sepele pun berlaku itu. Kita memuji, karena kadang ingin dipuji. Ketika pujian tak juga diberikan, kita kecewa. Kita gak terima. Dan akhirnya tidak mau memuji. Hiks … hiks …
Jangan terlalu sering memuji, itu pesan Rasul. Bahkan, Beliau berkata : Ambillah pasir, dan lemparkan pada orang yang memujimu.
Hayooo… siapa yang mau memuji saya, sini … Saya sudah pegang pasir lho!
Semoga kita tidak hanya selalu menanti pujian pada setiap aktivitas kita. Semoga semangat kita bertindak bukanlah berdasarkan pujian. Karena jika suatu saat tiba masanya kita menjadi orang yang di-nafi-kan, apakah kita akan tetap mampu berkarya tanpa dukungan dari pujian? Semoga kita menjadi makin baik. Amin. Read more…

Categories: Hidup

Grafik Keimanan-ku

18 Januari 2008 Abied 2 komentar

Iman itu dinamis. Kadangkala ia naik, namun kadangkala ia turun.
Andaikan setiap kegiatan yang kita lakukan dalam kehidupan sehari-hari dibuatkan model, maka sebuah grafik selalu dapat mewakilinya. Rata-rata bisa berupa grafik nilai sinus (pada matematika), yang bermula dari nilai 0 (Nol) kemudian naik ke atas pada batas tertinggi angka 1 (satu) dan kemudian turun lagi ke nol hingga nilai -1 (Minus satu). Namun ketika di suatu saat kita sampai pada titik jenuh, maka aktivitas kita akan berada kembali di titik keseimbangan, yakni nol.
Keimanan kita juga begitu adanya. Selalu naik turun. Kita manusia, bukanlah malaikat yang selalu mampu taat kepada setiap perintah Tuhan. Namun, kita juga bukan setan yang selalu kufur atas perintah Tuhan.
Kadang, ketika sifat malaikat muncul dalam diri kita, maka tiba-tiba grafik keimanan kita naik. Menuju puncak tertinggi. Jika saat itu tiba, maka hati kita selalu tertarik untuk melakukan kebajikan, melaksanakan perintah Tuhan, menjadi hamba yang benar-benar bisa diandalkan. Saat itu, kebahagiaan akan benar-benar ada di hati kita.
Namun ketika sifat setan lebih kuat dalam hati, maka grafik kita turun, menuju nol, dan bahkan melewatinya. Minus. Saat itu kita berbuat semau kita. Melanggar perintah agama. Kita akan menjadi orang asing bagi sang Aku yang ada dalam diri kita.
Masing-masing memiliki konsekuensi. Read more…

Categories: Islam

Mendengar itu Lebih Sulit

18 Januari 2008 Abied 1 comment

Tak banyak dari kita yang sadar hal ini. Sebuah penelitian yang telah dilakukan di Amerika Serikat pada beberapa ratus karyawan menghasilkan kesimpulan bahwa hal terpenting yang harus dilakukan untuk menjaga komunikasi yang baik dalam perusahaan adalah kemampuan mendengarkan yang baik. Dan pada kenyataannya memang begitu adanya. Kebanyakan dari kita selalu lebih senang menjadi pembicara yang atraktif, yang otoriter, yang agresif, dibandingkan dengan menjadi pendengar yang baik ketika terjadi percakapan antar sesama. Lihat saja, selalu ada orang yang menjadi sentral perhatian dalam diskusi-diskusi kecil. Selalu ada orang yang omongannya bahkan lebih besar daripada besarnya gedung yang ditempati. Yang bicaranya lebih banyak daripada banyaknya jumlah peserta pembicaraan.
Logika yang paling sering digunakan untuk memperingatkan kita Read more…

Categories: Hidup

Superhero tanpa wanita, Ada Ka?!

18 Januari 2008 Abied Tinggalkan komentar

Pertanyaan ini saya ajukan dalam dunia film. Meskipun semua terinspirasi dari dunia nyata. Dari beberapa film action, sebaik dan seganas apapun aktingnya. Namun, tanpa wanita, film tak akan pernah menjadi menarik. Ini adalah tren saat ini. Mungkin karena – menurut Amir – saat ini adalah zaman romantisme. Semua selalu dihubungkan dengan cinta. Jadinya, tak ada sesuatu yang pernah bisa dilepaskan dari ini.
Ambil saja beberapa contoh film :
SPIDERMAN : Tokoh yang satu ini memang dalam akhir ceritanya pada sekuel yang kemarin akhirnya menyatakan memilih karir di bidang superhero-nya ketimbang cerita cinta, namun di awal cerita hingga seperempat terakhir, keguncangan dalam hidupnya terjadi karena wanita. RJ. Pacarnya yang ternyata juga disenangin oleh temannya sendiri akhirnya begitu mengguncang cintanya. Kau hancurkan hatiku, kau redupkan lagi, kau hancurkan hatiku tuk melihatmu… <strike> kata Peterpan </strike>
SUPERMAN : Yang ini juga gitu. Tak ada satu pun episode yang membuatnya mampu bertenaga tanpa support dari wanita idamannya. Bahkan sempat terjadi adegan penyanderaan sang pacar. Dan ini adalah tips terbaik untuk mengguncang hati penonton. Seperti dalam SEMUA trik yang dilakukan oleh SANJAI DUT dalam semua film india-nya.
FANTASTIC FOUR : Juga begitu.
HULK : Apalagi
THE LORD of THE RING : Juga
*Kok dah gak ingat film yang lain ya? ;-) . Satu-satunya Read more…

Categories: Cinta

Tips Belajar Efektif

18 Januari 2008 Abied Tinggalkan komentar

Tiap kali menjelang Final semester, aku kembali mengatur strategi belajar yang baik. Juga malam ini. Biasanya, yang paling sering digunakan adalah strategi SKS (Sistem Kebut Semalaman), terutama pada mata kuliah yang hanya perlu dibaca-baca ulang. Review dan kemudian diingat. Tapi pada mata kuliah yang hitung-hitungan (seperti kebanyakan pada jurusanku) hal itu tidak dapat dilakukan. Apa gak stress kalau mesti menghafal semua rumus dalam waktu kurang dari 12 jam sebelum ujian? Jika rumusnya tidak membutuhkan analisis mah mungkin saja, tapi rumus di level ini sudah terlampau sulit <strike>menurutku</strike>.
Tapi jika memang darurat, terpaksa sistem SKS pun Read more…

Categories: Pendidikan

Falsafah Lampu Merah

14 Januari 2008 Abied 2 komentar

Bagi pengendara sepeda motor di pedesaan seperti kampungku, tentu mereka tak tahu lampu lalu lintas. Mungkin saja kenal, tapi tidak pernah bertemu. Jalur jalan yang mereka lalui adalah rata-rata jalan yang lurus. Kendaraan yang lalu lalang pun masih bisa dibilang sedikit. Sehingga, kebutuhan lampu lalu lintas belumlah menjadi kebutuhan yang penting. Beda dengan kota besar seperti Makassar ini. Tanpa lampu lalu lintas, akan terjadi banyak kecelakaan. Dari yang kecil hingga yang berakibat fatal.
Lampu lalu lintas, bila diandaikan dalam hidup adalah rambu-rambu yang mesti dipatuhi oleh setiap pengguna. Jika kita hidup dalam aturan Islam, maka Islam mengatur lampu merah, kuning dan hijau pada setiap hal. Lampu lalu lintas dibuat bukan untuk menyulitkan pemakai jalan, tapi justru mengatur kepentingan orang yang berbeda-beda. Bayangkan lalu lintas sesemrawut kota Makassar tanpa lampu lalu lintas. Yang nyata bagi saya, lampu merah menyala bukan untuk menghentikan langkah pengguna jalan selama-lamanya. Tapi, menyala sebentar justru untuk melancarkan kendaraan yang melaju di jalan.
Begitu juga aturan agama. Islam misalnya, melarang kita untuk mendekati zina adalah demi kepentingan yang lebih besar. Bukan berarti zina dilarang untuk mengekang kebutuhan biologis, tapi justru zina dilarang karena telah ada aturan yang lebih sempurna. Read more…

Categories: Hidup, Pendidikan

SMS dan Managemen Waktu

14 Januari 2008 Abied Tinggalkan komentar

Dalam sebuah koran diceritakan tentang seorang anak di China yang harus dibawa ke rumah sakit akibat kecanduannya pada handphone (handphone itu biasa disingkat HaPe, sama dengan HP, sama juga dengan Ponsel. Ponsel sendiri kependekan dari telePON SELular. Hampir sama dengan kata matematika, yang merupakan kependekan dari kalimat MAkin diTEkuni MAkin TIdak KAruan. Hehehe… itu kata temanku lho! Aku cuma menyampaikan saja). Kecanduan pada handphone yang terjadi pada gadis itu karena ia keranjingan dengan salah satu fiturnya, berupa SMS. Dalam sehari, katanya, rata-rata anak tadi mengirim 100 pesan ke orang lain. Artinya, jika semua pesannya dibalas, maka memori di HPnya akan dipenuhi 200 SMS per hari. 6.000 SMS per bulan, atau sekitar 72.000 buah SMS pertahun. Wow.. bukan jumlah yang sedikit. Jika biaya kirim per-SMS adalah 100 rupiah, maka anak tadi akan menghabiskan Rp. 7.200.000,- per tahun. Hanya untuk SMS saja. Belum untuk menelpon, GPRS-an, MMS-an, Video Call-an, 3G-an, dan seterusnya. Yang kasihannya, ke kamar kecil saja mesti bawa HP. Apa gak kasian tu? (Anda pernah merasakan kecanduan kan?)
Cerita di atas, pastinya akan jadi bahan perbandingan bagi kita. Read more…

Categories: Hidup, Pendidikan